“Benang di Tangan Nona”: Digitalisasi Nilai Historis, Filosofis dan Ekofeminis Tenun Songket Desa Sukarara melalui Media Web Interaktif Sebagai Sarana Pewarisan Nilai Budaya Sasak
Nama Tim Peneliti
RIFQI MAULANA HASAN
DAYYAN ABDILLAH FARRAZANDY
ISH dan Budaya
SMA Islam Terpadu Putra Abu Hurairah
Mataram, Nusa Tenggara Barat
Tahun 2026
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAB 1 PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG
Tenun songket Desa Sukarara di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, merupakan representasi identitas kultural masyarakat Sasak yang memuat dimensi historis, simbolik, dan sosial yang mendalam. Tradisi menenun menjadi aktivitas produksi tekstil dan menjadi mekanisme transmisi nilai yang dilekatkan pada peran perempuan dalam struktur adat. Motif-motif seperti Subahnale dan Keker mengandung narasi kosmologis, relasi manusia dengan alam, serta tatanan sosial yang diwariskan secara turun-temurun (Sandi et al., 2025). Dari tinjauan ekofeminis, praktik menenun memperlihatkan hubungan timbal balik antara perempuan dan lingkungan melalui penggunaan bahan lokal serta pewarna alami yang merefleksikan kesadaran ekologis. Namun, di tengah akselerasi digital dan perubahan pola interaksi generasi muda, pewarisan nilai tersebut menghadapi tantangan serius karena dokumentasi budaya masih dominan bersifat konvensional dan belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi interaktif sebagai ruang edukasi yang partisipatif. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara kekayaan nilai budaya yang dimiliki dengan strategi pelestarian yang relevan dengan karakter masyarakat digital (Ananda & Briandana, 2025).
Sejumlah penelitian telah mengkaji tenun Sukarara dari berbagai sudut pandang, salah satunya penelitian berjudul Eksplorasi Etnomatematika pada Motif Kain Tenun Desa Sukarara dan Implikasi dalam Pembelajaran Matematika (Septiana et al., 2023) yang mengungkap keberadaan pola geometris dan konsep matematis dalam motif tenun serta relevansinya terhadap pembelajaran. Tenun Sukarara terbukti bernilai estetis, kultural, dan ilmiah. Penelitian tersebut berfokus pada dimensi etnomatematika dan belum mengintegrasikan dengan aspek historis, filosofis, serta perspektif ekofeminis dalam suatu media digital yang komprehensif. Hingga saat ini, belum terdapat model digitalisasi berbasis web interaktif yang secara sistematis mentransformasikan nilai-nilai tersebut sebagai sarana pewarisan budaya Sasak. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengembangan media web interaktif yang mengintegrasikan kajian budaya, humaniora digital, dan pendekatan ekofeminis guna menciptakan model pelestarian yang edukatif, adaptif, serta berkelanjutan. Sampai saat ini di desa Sukarara belum tersedia tour guide yang menjelaskan sejarah dan filosofis yang terdapat pada tenun, maka dalam penelitian ini akan dibuat sebuah web interaktif. Pengunjung dapat dengan mudah mengakses website ini saat berkunjung ke desa Sukarara. Melalui handphone, pengunjung tinggal melakukan scan QR Code yang akan diletakkan di meja kasir dan tempat mengenakan pakaian adat, QR Code ini akan menghubungkan pengunjung ke website interaktif.
  1. RUMUSAN MASALAH
Penelitian ini dirumuskan dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
  1. Bagaimana nilai historis, filosofis, dan ekofeminis yang terkandung dalam tenun songket Desa Sukarara direpresentasikan dalam praktik budaya masyarakat Sasak?
  2. Bagaimana tingkat pemahaman generasi muda terhadap makna simbolik dan nilai budaya yang terkandung dalam tenun songket Sukarara?
  3. Bagaimana merancang media web interaktif yang mampu mendigitalisasi nilai historis, filosofis, dan ekofeminis secara sistematis dan edukatif?
  4. Sejauh mana efektivitas media web interaktif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran generasi muda terhadap nilai budaya Sasak?
  5. TUJUAN PENELITIAN
  6. Tujuan Umum
Mengembangkan media web interaktif sebagai sarana digitalisasi dan pewarisan nilai historis, filosofis, dan ekofeminis tenun songket Desa Sukarara kepada generasi muda.
  1. Tujuan Khusus
  2. Mengidentifikasi dan menganalisis nilai historis, filosofis, dan ekofeminis dalam praktik tenun songket Desa Sukarara.
  3. Mengkaji tingkat pemahaman generasi muda terhadap nilai budaya yang terkandung dalam tenun songket Sukarara.
  4. Merancang dan mengimplementasikan prototipe media web interaktif berbasis nilai budaya Sasak.
  5. Menguji efektivitas media web interaktif dalam meningkatkan pemahaman serta kesadaran budaya generasi muda.
  6. HIPOTESIS 
Penelitian ini mengintegrasikan pendekatan kualitatif dan pengembangan media digital dengan pengujian efektivitas secara kuantitatif. Oleh karena itu, hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:
Hipotesis Kerja (H₁):
Penggunaan media web interaktif yang memuat digitalisasi nilai historis, filosofis, dan ekofeminis tenun songket Desa Sukarara berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pemahaman dan kesadaran budaya generasi muda.
Hipotesis Nol (H₀):
Penggunaan media web interaktif tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pemahaman dan kesadaran budaya generasi muda.
  1. MANFAAT PENELITIAN
  2. Manfaat Teoritis
Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan kajian humaniora digital, khususnya dalam integrasi antara pelestarian budaya tradisional dan teknologi informasi. Selain itu, penelitian ini memperkaya khazanah kajian ekofeminisme dalam konteks budaya lokal Nusantara, khususnya pada praktik tenun masyarakat Sasak.
  1. Manfaat Praktis
  2. Bagi Masyarakat Desa Sukarara:
Memberikan sarana alternatif pewarisan nilai budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi tradisi.
  1. Bagi Generasi Muda:
Meningkatkan pemahaman, apresiasi, dan kesadaran terhadap makna simbolik tenun songket sebagai bagian dari identitas budaya Sasak.
  1. Bagi Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendidikan:
Menjadi model inovasi pelestarian budaya berbasis teknologi yang dapat direplikasi pada warisan budaya lain di Nusa Tenggara Barat maupun wilayah Indonesia lainnya.
  1. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan:
Memberikan model konseptual dan aplikatif mengenai digitalisasi nilai budaya berbasis web interaktif yang mengintegrasikan aspek historis, filosofis, dan ekofeminis secara komprehensif.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
  1. LANDASAN TEORI
A. Digitalisasi
Pengertian digitalisasi menurut beberapa ahli: Sukmana dalam Erwin (2020), digitalisasi adalah proses media dari bentuk tercetak, video, maupun audio menjadi bentuk digital. Menurut Lorenzo Riccioli (2023), digitalisasi merupakan penggunaan teknologi digital untuk mengubah industri, sehingga memberi keuntungan kompetitif yang baru dan menghasilkan nilai tambah bagi konsumen. Maka dapat disimpulkan bahwa digitalisasi dilakukan mengikuti perkembangan teknologi yang bertujuan untuk menambah nilai dari suatu barang atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen.
B. Tenun
 Tenun adalah jenis kain yang dibuat dengan cara menyilangkan benang melintang (pakan) dan benang tegak lurus (lusi) secara teratur untuk membuat pola tertentu (Goet Poespo, 2005). Bahan yang umum digunakan dalam pembuatan tenun adalah wol, linen, sutra, dan katun. Salah satu jenis kain tenun adalah tenun songket yaitu kain tenun yang pembuatan motif hiasnya menggunakan benang pakan tambahan, biasanya terbuat dari emas atau perak. Teknik pembuatan motifnya adalah dengan mengangkat lajur-lajur benang lusi untuk memasukkan benang pakan tambahan.
C. Website Interaktif
 Website interaktif adalah situs web yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pengguna dengan fitur atau konten yang ada di dalam situs tersebut. Berbeda dengan web statis yang hanya menampilkan informasi secara satu arah. Dalam website interaktif, elemen visual memiliki peran penting karena dapat meningkatkan kepuasan dan durasi kunjungan pengguna (Thwairan, 2024).
  1. STUDI PUSTAKA
 Penelitian sebelumnya menunjukkan upaya pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian budaya songket. Salah satu studi, Designing a Prototype of Digital Museum to Promote Woven Songket, A Local Product of Sumatera, Indonesia, mengembangkan museum digital yang menampilkan koleksi songket dengan informasi terkait motif dan nilai budaya di Sumatera. Platform ini memungkinkan publik mengakses representasi visual serta deskripsi budaya songket secara daring, sehingga memperluas jangkauan pemahaman tentang warisan tekstil tradisional melalui media digital. Penelitian ini menegaskan bahwa digitalisasi dapat menjadi strategi efektif untuk mendukung pelestarian warisan songket agar tetap relevan di era modern (Bertalyaa et al., 2014).
 Kajian (Suriyati, 2019) Desain Perancangan E-Commerce Kain Tenun Lombok Desa Sukarara Lombok Tengah. Meneliti tentang penerapan media pemasaran berbasis e-commerce untuk membantu para pengrajin kain tenun dalam mempromosikan serta menjual hasil karya mereka. Hasil dari penelitian tersebut adalah e-commerce memudahkan para pengrajin untuk menjangkau konsumen yang lebih luas serta memudahkan proses komunikasi antara penjual dan pembeli.
 Kajian lain yang relevan adalah ENSIKLOPEDIA DIGITAL INTERAKTIF SONGKET TRADISIONAL PADA WEB BASED HTML5, yang menelaah pengembangan ensiklopedia digital berbasis web untuk menyampaikan informasi songket tradisional dengan pendekatan interaktif. Platform digital yang dibahas menggunakan teknologi HTML5 untuk menjembatani generasi digital dalam memahami informasi budaya secara visual dan interaktif, yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman serta minat publik terhadap warisan tenun. Penelitian ini memberikan dasar konseptual bahwa pengembangan web interaktif mempunyai potensi signifikan sebagai media edukatif dan konservatif bagi warisan budaya, sekaligus menunjukkan batasan pada ruang lingkup konten yang belum terintegrasi secara holistik terhadap dimensi filosofis dan nilai lokal yang lebih luas (Sari & Haswanto, 2018).
Selain itu, studi Training and Mentorship for Youth: Digitalization of Tenun Motifs to Preserve Culture in Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa Pontianak oleh Annisa Dina Amalia dan rekan-rekan membahas program pengabdian masyarakat yang memberikan pelatihan dan pendampingan kepada generasi muda dalam digitalisasi motif dan makna kain tenun sebagai upaya pelestarian budaya. Program ini menggunakan pendekatan Community Development Method (CDM) untuk meningkatkan keterampilan digital peserta serta menciptakan arsip digital motif tenun yang membantu dokumentasi dan upaya pelestarian warisan budaya lokal. Artikel ini menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam proses digitalisasi tidak hanya mendukung preservasi budaya tetapi juga berpotensi memperluas peluang ekonomi berbasis budaya (Dina et al., 2024).
BAB 3 METODE PENELITIAN
  1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Mei 2026. Lokasi penelitian berada di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai pusat aktivitas tenun songket tradisional masyarakat Sasak. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa Desa Sukarara merupakan sentra produksi dan pewarisan tenun yang masih aktif mempertahankan tradisi secara turun-temurun. Selain penelitian lapangan, proses perancangan dan pengembangan media web interaktif dilakukan di SMA Islam Terpadu Putra Abu Hurairah, Kota Mataram, sebagai lokasi pengolahan data dan pengembangan sistem digital.
  1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi perangkat keras berupa laptop/komputer untuk pengolahan data dan pengembangan web, kamera digital atau ponsel berkamera untuk dokumentasi visual, serta alat perekam suara untuk wawancara. Perangkat lunak yang digunakan meliputi aplikasi pengolah data kualitatif, perangkat pengolah desain antarmuka (UI/UX), serta platform pengembangan web berbasis HTML, CSS, dan JavaScript.
Bahan penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan penenun, tokoh adat, dan pengelola sentra tenun, serta observasi langsung terhadap proses produksi dan makna simbolik motif. Data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah, jurnal penelitian, dokumen kebijakan kebudayaan, serta arsip digital yang relevan dengan tenun songket Sukarara, ekofeminisme, dan humaniora digital.
  1. Rancangan dan prosedur penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian pengembangan (Research and Development/R&D) sederhana. Tahapan penelitian meliputi: (1) studi pendahuluan untuk mengidentifikasi nilai historis, filosofis, dan ekofeminis dalam tenun songket Sukarara; (2) pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi; (3) analisis kebutuhan sistem digital berdasarkan temuan lapangan; (4) perancangan struktur konten dan desain antarmuka web interaktif; (5) pengembangan prototipe web; serta (6) uji coba terbatas kepada pengguna (siswa atau generasi muda) untuk memperoleh umpan balik. Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara semi-terstruktur yang memuat pertanyaan tentang sejarah tenun, makna motif, peran perempuan, serta perubahan praktik akibat modernisasi; lembar observasi proses menenun; dan angket evaluasi pengguna terhadap efektivitas web interaktif. Seluruh proses penelitian dilakukan dengan memperhatikan etika penelitian, termasuk persetujuan narasumber sebelum wawancara dan dokumentasi.
  1. Rancangan Pengolahan Data
Data kualitatif yang diperoleh dari wawancara dan observasi dianalisis menggunakan teknik analisis tematik, yaitu melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, dan penarikan kesimpulan. Nilai-nilai historis, filosofis, dan ekofeminis diidentifikasi dan dikelompokkan menjadi tema-tema utama yang kemudian diterjemahkan ke dalam struktur konten web. Data hasil angket uji coba dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengetahui tingkat pemahaman, ketertarikan, dan efektivitas media. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak pengolah data kualitatif dan aplikasi spreadsheet untuk analisis deskriptif. Hasil analisis diinterpretasikan dengan mengacu pada kerangka teori pelestarian budaya, ekofeminisme, dan media interaktif.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 
  1. Gambaran Umum Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, sebagai salah satu pusat tradisi tenun songket Sasak yang masih mempertahankan praktik menenun secara langsung dalam kehidupan masyarakat dan aktivitas wisata budaya. Pemilihan lokasi didasarkan pada relevansi Desa Sukarara sebagai ruang hidup budaya, tempat nilai historis, filosofis, dan ekologis tenun masih dapat diamati melalui praktik masyarakat, cerita narasumber, motif kain, bahan yang digunakan, serta interaksi antara penenun dan pengunjung. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, pre-test, post-test, dan angket respons pengguna. Narasumber wawancara terdiri atas satu tour guide sentra tenun dan satu penenun perempuan atau Inaq. Tour guide memberikan informasi mengenai sejarah, makna motif, perkembangan fungsi tenun, bahan, pewarna, serta kebutuhan media informasi bagi wisatawan. Sementara itu, Inaq memberikan keterangan berdasarkan pengalaman langsung sebagai pelaku budaya, terutama mengenai proses belajar menenun, pewarisan keterampilan, makna batin dalam proses menenun, perubahan penggunaan bahan, serta harapan terhadap pelestarian tenun melalui media digital.
Gambar 4.1 Suasana Desa Surakara
Uji coba web interaktif melibatkan 90 siswa sebagai representasi generasi muda yang menjadi sasaran utama pewarisan nilai budaya. Pre-test diberikan sebelum siswa menggunakan web untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mengenai tenun songket Sukarara, sedangkan post-test diberikan setelah penggunaan web untuk melihat perubahan pemahaman pada aspek historis, filosofis, proses menenun, ekofeminisme, digitalisasi budaya, dan kesadaran pelestarian. Angket respons pengguna digunakan untuk menilai keterbacaan informasi, kemudahan penggunaan, tampilan visual, manfaat QR Code, serta pengaruh web terhadap minat siswa dalam mengenal dan menjaga budaya tenun. Bab ini menyajikan hasil penelitian secara berurutan, mulai dari temuan observasi lapangan, hasil wawancara, rancangan dan isi web interaktif, perbandingan hasil pre-test dan post-test, hingga respons pengguna terhadap media yang dikembangkan.
  1. Hasil Observasi Sentra Tenun Surakara
Budaya tenun masih menjadi ruang budaya bagi masyarakat di sentra tenun Surakarta melalui aktivitas ekonomi, tata ruang wisata, dan praktik menenun turun-menurun yang bisa disaksikan langsung oleh pengunjung. Lokasi observasi memiliki area khusus untuk menenun, ruang pajang kain, jalur kunjungan, serta tempat bagi wisatawan untuk mencoba pakaian adat. Susunan ruang tersebut memperlihatkan bahwa tenun songket Sukarara telah berkembang sebagai praktik budaya sekaligus bagian dari wisata lokal. Pengunjung dapat melihat proses pembuatan kain, mengamati koleksi motif, bertanya kepada pengelola atau tour guide, serta merasakan pengalaman budaya melalui pemakaian busana adat. Keberadaan alur kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa sentra tenun berperan sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan lokal masyarakat Sasak dan rasa ingin tahu wisatawan.
Gambar 4.2.1 Proses Menenun di Desa Surakara
Pada proses pembuatan tenun songket, penenun terlihat melakukan tahapan kerja secara bertahap, dimulai dari persiapan benang, penyusunan benang, hingga proses menenun menggunakan alat tenun tradisional. Alat tenun yang digunakan masih digerakkan secara manual, sehingga keterampilan tangan, ketelitian mata, dan kesabaran penenun menjadi bagian penting dari proses produksi. Gerakan menenun dilakukan secara berulang, teratur, dan penuh kehati-hatian karena kesalahan kecil pada susunan benang dapat memengaruhi bentuk motif yang dihasilkan. Proses tersebut memperlihatkan bahwa kain tenun bukan sekadar produk jadi, melainkan hasil dari waktu, konsentrasi, pengalaman, dan ketekunan penenun. Nilai budaya tenun tampak melalui kerja perlahan yang menuntut kedisiplinan tubuh serta kepekaan penenun terhadap pola dan ritme alat tenun.
Dari aspek motif, observasi menemukan beberapa motif khas Sukarara, seperti Subahnale, Keker, motif bunga, burung, tumbuhan, serta bentuk geometris. Motif-motif tersebut memperlihatkan bahwa kain tenun memiliki bahasa simbolik yang menyimpan pesan budaya. Subahnale sering dikaitkan dengan rasa syukur dan nilai spiritual, sedangkan Keker yang terinspirasi dari burung merak menggambarkan keindahan, keanggunan, dan harapan baik. Motif bunga, burung, dan tumbuhan memperlihatkan kedekatan masyarakat dengan alam sebagai sumber inspirasi visual. Kain tenun, melalui motifnya, menjadi media untuk menyampaikan nilai kesabaran, keharmonisan, keteraturan hidup, hubungan manusia dengan alam, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.

Subahnale
Nane (Sekarang)

Subahnale
Laek (Lama)

Bulan Bekurung

Keker

Ragi Empat
Gambar 4.2.2 Motif Tenun Desa Surakara
Peran perempuan atau Inaq tampak kuat dalam aktivitas menenun di Sukarara. Penenun perempuan menjadi pelaku utama yang menghidupkan tradisi melalui keterampilan tangan, ingatan budaya, serta pengalaman yang diwariskan dari keluarga. Inaq bukan sekadar pembuat kain, melainkan penjaga pengetahuan tentang teknik, motif, cerita, dan nilai yang terkandung di dalam tenun. Tradisi menenun memperlihatkan posisi perempuan sebagai pusat pewarisan budaya Sasak, terutama karena keterampilan tersebut banyak diajarkan dari ibu atau nenek kepada anak perempuan. Melalui aktivitas menenun, perempuan menjaga kesinambungan antara masa lalu, kehidupan keluarga, dan identitas budaya masyarakat Sukarara.
Gambar 4.2.3 Bahan Pewarna Alami Tenun
Saat proses observasi berlangsung, terlihat adanya perubahan pada penggunaan bahan dan pewarna tenun. Bahan yang banyak digunakan saat ini berupa benang pabrikan, katun, atau jenis benang lain yang lebih mudah diperoleh. Pengetahuan tentang pewarna alami masih dikenal, seperti kunyit untuk warna kuning, tarum atau indigo untuk warna biru, akar mengkudu untuk warna kemerahan, serta daun dan kulit kayu untuk menghasilkan warna tertentu. Penggunaan pewarna alami mulai berkurang karena prosesnya lebih lama, membutuhkan keterampilan khusus, dan ketersediaan tanaman pewarna tidak sebanyak dahulu. Pewarna modern lebih sering digunakan karena praktis dan memiliki warna yang kuat, tetapi penggunaannya perlu disertai kesadaran terhadap pengelolaan limbah agar tidak merusak lingkungan.
Terakhir, mengenai penggunaan QR Code dan web interaktif bisa ditempatkan di titik strategi untuk penyajian informasi digital. Area masuk, meja kasir, ruang pajang kain, area alat tenun, serta tempat mencoba pakaian adat dapat dimanfaatkan sebagai titik akses informasi melalui QR Code. Media tersebut dapat membantu pengunjung memperoleh penjelasan mengenai sejarah tenun, makna motif, proses menenun, peran Inaq, bahan, pewarna alami, serta nilai ekologis yang melekat pada tradisi Sukarara. Kebutuhan media digital menjadi penting karena penjelasan lisan dari tour guide atau pengelola memiliki keterbatasan waktu dan tidak selalu dapat diterima secara lengkap oleh setiap pengunjung.
  1. Hasil Wawancara Tour Guide
Wawancara dengan tour guide sentra tenun Surakara menegaskan bahwa tenun songket memiliki kedudukan krusial sebagai identitas budaya masyarakat Sasak. Narasumber menjelaskan bahwa tradisi menenun telah hidup sejak lama dan diwariskan melalui keluarga, terutama dari ibu, nenek, atau kerabat perempuan kepada anak perempuan. Tenun dipahami sebagai pekerjaan rumah tangga dan sebagai keterampilan budaya yang melekat pada kehidupan masyarakat Sukarara. Pada masa lalu, kain tenun banyak digunakan untuk acara adat, pernikahan, penyambutan tamu, dan kegiatan keagamaan, sehingga keberadaannya memiliki nilai sosial dan simbol kehormatan. Perkembangan zaman membuat fungsi tenun mengalami perluasan. Kain tenun yang dahulu lebih dekat dengan kebutuhan adat kini juga menjadi bagian dari wisata budaya dan sumber ekonomi masyarakat.
Berdasarkan aspek filosofis, tour guide menegaskan bahwa motif tenun Sukarara menyimpan pesan budaya yang diwariskan secara lisan. Motif Subahnale dijelaskan sebagai motif yang dekat dengan rasa syukur dan nilai spiritual, sedangkan motif Keker yang terinspirasi dari burung merak menggambarkan keindahan, keanggunan, keharmonisan, dan harapan baik. Motif bunga, daun, burung, tumbuhan, serta bentuk alam lain menunjukkan kedekatan masyarakat Sukarara dengan lingkungan sekitarnya. Motif pada kain tenun bekerja seperti bahasa simbolik yang menyampaikan nilai tanpa kata-kata. Melalui susunan benang dan pola visual, masyarakat menyimpan pesan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, keluarga, adat, dan alam. Dapat disimpulkan, kain tenun dianggap sebagai benda estetis, karena setiap motif menyimpan lapisan makna, ingatan kolektif, serta cara masyarakat Sasak menjaga nasihat leluhur.
Tabel 4.3 Hasil Wawancara
NoAspekRingkasan Hasil Wawancara
1 | Nilai historis | Tenun songket Sukarara telah diwariskan secara turun-temurun melalui keluarga, terutama dari ibu dan nenek kepada anak perempuan. Pada masa lalu, tenun digunakan dalam acara adat, pernikahan, penyambutan tamu, dan kegiatan keagamaan. Saat ini, fungsinya berkembang menjadi bagian dari wisata budaya dan sumber ekonomi masyarakat.
2 | Nilai filosofis | Motif tenun Sukarara memiliki makna simbolik. Motif Subahnale berkaitan dengan rasa syukur dan nilai spiritual, sedangkan motif Keker melambangkan keindahan, keanggunan, keharmonisan, dan harapan baik. Motif bunga, burung, dan tumbuhan menunjukkan hubungan masyarakat dengan alam.
3 | Nilai ekofeminisme | Perempuan atau Inaq berperan penting sebagai penenun, penjaga motif, pewaris cerita, dan pelestari tradisi. Tenun juga memiliki hubungan dengan alam melalui motif serta penggunaan pewarna alami seperti tarum/indigo, akar mengkudu, kunyit, daun, dan kulit kayu.
4 | Kebutuhan digitalisasi | Tour guide menilai web interaktif dan QR Code diperlukan untuk membantu pengunjung memahami sejarah, motif, proses menenun, bahan, pewarna alami, dan cerita penenun. Media digital dapat melengkapi penjelasan lisan yang sering terbatas oleh waktu dan jumlah pengunjung.
Ketika menyinggung nilai ekofeminisme, tour guide menjelaskan hubungan erat antara perempuan, kain, dan alam. Perempuan atau Inaq memiliki peran besar sebagai penenun, pengajar, penjaga motif, sekaligus penyimpan cerita budaya. Pengetahuan tentang teknik menenun, makna motif, dan nilai-nilai keluarga berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengalaman perempuan. Alam juga hadir sebagai sumber inspirasi motif serta bahan pewarna alami, seperti tarum atau indigo, akar mengkudu, kunyit, daun, dan kulit kayu. Pergeseran menuju bahan modern menunjukkan adanya tuntutan produksi dan kebutuhan pasar, tetapi narasumber tetap menekankan pentingnya pengetahuan ekologis agar hubungan budaya dengan lingkungan tidak terputus. Tour guide juga menilai bahwa web interaktif dan QR Code dapat membantu penyampaian informasi budaya kepada pengunjung, terutama karena penjelasan lisan sering terbatas oleh waktu dan jumlah wisatawan. Media digital dapat memuat sejarah, makna motif, proses menenun, bahan, pewarna alami, cerita penenun, foto, dan video, sehingga nilai budaya Sukarara dapat dikenalkan secara lebih luas kepada generasi muda.
  1. Hasil Wawancara Penenun (Inaq)
Keterampilan menenun sangat menonjol dalam sesi wawancara bersama penenun, yang biasa disebut Inaq oleh masyarakat lokal, Aktivitas menenu lahir dari ruang keluarga dan pengalaman sehari-hari di Surakara. Inaq menceritakan bahwa ia pertama kali belajar menenun dari ibu, kemudian mendapat arahan dari nenek. Proses belajar berlangsung sejak usia anak-anak, dimulai dari melihat, membantu bagian sederhana, memegang benang, menyusun pola, sampai perlahan mampu menggerakkan alat tenun. Pengetahuan tersebut tidak diperoleh melalui buku petunjuk tertulis, melainkan melalui praktik langsung, pengamatan, pengulangan, dan koreksi dari orang tua. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tradisi menenun diwariskan melalui kedekatan tubuh, ingatan, dan kebiasaan keluarga. Istilah nyesek dipahami sebagai kegiatan menenun yang dahulu memiliki kedudukan penting bagi perempuan Sasak. Perempuan yang mampu nyesek dianggap memiliki keterampilan, kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga tradisi keluarga.
Pada pengalaman personal Inaq, menenun dipahami sebagai pekerjaan yang membutuhkan ketenangan batin, kesabaran, ketelitian, dan kehati-hatian. Kesalahan kecil pada susunan benang dapat mengubah motif, sehingga penenun perlu menjaga konsentrasi selama proses berlangsung. Inaq juga menyampaikan bahwa menenun sering disertai doa dan harapan agar kain yang dihasilkan menjadi baik, membawa keberkahan, serta menyenangkan orang yang memakainya. Motif tenun dipahami sebagai pesan leluhur yang mengajarkan manusia untuk tidak lupa asal-usul, hidup sabar, tekun, rapi, dan menjaga hubungan dengan alam. Motif yang terinspirasi dari bunga, burung, atau unsur alam memperlihatkan bahwa kain tenun menyimpan nasihat tentang kehidupan yang seimbang. Bagi Inaq, kain yang selesai dibuat memberikan kepuasan batin karena setiap motif lahir dari proses panjang, kerja tangan, dan kesabaran pribadi.
Tabel 4.4 Hasil Observasi
NoAspekRingkasan Hasil Wawancara
1 | Pewarisan tradisi | Inaq belajar menenun sejak kecil dari ibu dan nenek. Proses belajar dilakukan melalui pengamatan, praktik langsung, dan kebiasaan di lingkungan keluarga.
2 | Tradisi nyesek | Nyesek berarti menenun. Dahulu, perempuan Sasak di Sukarara diharapkan mampu nyesek sebagai tanda keterampilan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga tradisi keluarga.
3 | Proses menenun | Menenun membutuhkan kesabaran, ketelitian, ketenangan, dan kehati-hatian. Kesalahan kecil pada susunan benang dapat memengaruhi bentuk motif yang dihasilkan.
4 | Makna filosofis | Motif tenun dipahami sebagai pesan leluhur yang mengajarkan rasa syukur, ketekunan, keteraturan hidup, kesabaran, dan hubungan manusia dengan alam.
5 | Peran perempuan | Inaq berperan sebagai pembuat kain sekaligus penjaga pengetahuan budaya, mulai dari teknik menenun, motif, cerita, hingga nilai yang diwariskan dalam keluarga.
6 | Bahan dan pewarna | Inaq mengenal pewarna alami seperti kunyit, daun, kulit kayu, akar mengkudu, serta tarum/indigo. Namun, penggunaan pewarna alami mulai berkurang karena pewarna modern lebih praktis dan mudah diperoleh.
7 | Tantangan lingkungan | Berkurangnya tanaman pewarna alami dan kurangnya pengetahuan generasi muda menjadi tantangan dalam menjaga pengetahuan ekologis tradisional.
8 | Harapan digitalisasi | Inaq berharap web interaktif dapat membantu anak muda dan wisatawan memahami bahwa kain tenun Sukarara memiliki proses panjang, cerita keluarga, nilai budaya, dan hubungan dengan alam.
Wawancara juga memperlihatkan adanya perubahan dalam penggunaan bahan dan pewarna tenun. Inaq menjelaskan bahwa pewarna alami dahulu dikenal melalui bahan seperti kunyit, daun, kulit kayu, akar mengkudu, serta tarum atau indigo. Penggunaan bahan alami membutuhkan waktu lebih panjang dan pengetahuan khusus, sehingga pada masa sekarang banyak penenun beralih menggunakan pewarna modern yang lebih praktis, mudah diperoleh, dan menghasilkan warna kuat. Perubahan lingkungan, berkurangnya lahan tanaman, serta minimnya pengetahuan generasi muda tentang cara mengolah bahan alami menjadi tantangan bagi keberlanjutan pengetahuan ekologis dalam tradisi tenun. Inaq berharap kehadiran web interaktif dapat membantu anak muda dan wisatawan memahami bahwa kain tenun Sukarara bukan sekadar benda indah untuk dilihat atau dibeli, melainkan hasil dari proses panjang, cerita keluarga, keterampilan perempuan, nilai budaya, dan hubungan masyarakat dengan alam.
  1. Pengembangan Web Interaktif Tenun Songket Surakara
  2. Hasil Pre-Test & Post-Test Pemahaman Siswa
Uji pemahaman dilakukan kepada 90 siswa yang terdiri atas tiga kelas, yaitu kelas X-A sebanyak 30 siswa, kelas X-B sebanyak 30 siswa, dan kelas X-C sebanyak 30 siswa. Pelaksanaan pre-test dan post-test bertujuan untuk melihat perubahan pemahaman siswa sebelum dan sesudah menggunakan web interaktif tenun songket Sukarara. Pre-test diberikan sebelum siswa mengakses web, sedangkan post-test diberikan setelah siswa mempelajari konten yang tersedia pada web. Pembagian responden dari tiga kelas digunakan agar data yang diperoleh lebih beragam dan dapat menggambarkan respons generasi muda terhadap media digital budaya secara lebih luas.
Instrumen tes terdiri atas 20 soal pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban. Setiap jawaban benar diberi skor 1, sedangkan jawaban salah diberi skor 0. Materi soal disusun berdasarkan enam aspek utama, yaitu nilai historis tenun Sukarara, nilai filosofis motif, proses pembuatan tenun, ekofeminisme, digitalisasi budaya, dan kesadaran pelestarian. Aspek historis memuat pertanyaan mengenai identitas tenun Sukarara, pewarisan tradisi, fungsi adat, perubahan fungsi tenun, dan istilah nyesek. Aspek filosofis memuat makna motif Subahnale, Keker, simbol alam, motif sebagai pesan budaya, serta nilai kesabaran dan ketelitian. Aspek ekofeminisme berkaitan dengan peran perempuan/Inaq, bahan pewarna alami, hubungan perempuan dengan alam, serta dampak perubahan lingkungan terhadap keberlanjutan tradisi. Aspek digitalisasi dan kesadaran budaya memuat fungsi web interaktif, QR Code, serta sikap siswa terhadap pelestarian tenun Sukarara.
Perhitungan skor tes dilakukan dengan rumus:
Jumlah soal yang digunakan sebanyak 20 soal sehingga siswa yang menjawab benar memperoleh nilai 100. Kemudian rata-ratanya dihitung menggunakan rumus:
Untuk melihat besarnta peningkatan pemahaman, digunakan rumus selisih peningkatan dan N-Hain menggunakan rumus:
Rumus N-Gain:
Berdasarkan hasil pengolahan data, rata-rata skor pre-test siswa adalah 9,89 dari skor maksimal 20, dengan rata-rata nilai sebesar 49,44. Nilai terendah pada pre-test adalah 10, sedangkan nilai tertinggi adalah 80. Dari 90 siswa, sebanyak 51 siswa berada pada kategori kurang, 25 siswa berada pada kategori cukup, dan 14 siswa berada pada kategori baik. Data tersebut menunjukkan bahwa sebelum menggunakan web interaktif, pemahaman siswa mengenai tenun songket Sukarara masih belum merata. Sebagian besar siswa sudah mengenal tenun sebagai produk budaya, tetapi belum sepenuhnya memahami makna motif, proses pembuatan, peran Inaq, bahan pewarna alami, serta keterkaitan tenun dengan lingkungan dan digitalisasi budaya.
Setelah siswa menggunakan web interaktif, rata-rata skor post-test meningkat menjadi 16,68 dari skor maksimal 20, dengan rata-rata nilai sebesar 83,39. Nilai terendah pada post-test adalah 60, sedangkan nilai tertinggi mencapai 100. Pada tahap post-test, sebanyak 50 siswa berada pada kategori sangat baik, 33 siswa berada pada kategori baik, dan 7 siswa berada pada kategori cukup. Tidak ada siswa yang berada pada kategori kurang. Kenaikan tersebut memperlihatkan adanya perubahan pemahaman yang cukup kuat setelah siswa mengakses materi melalui web interaktif. Konten visual, penjelasan singkat, struktur menu, serta akses informasi melalui QR Code membantu siswa memahami tenun Sukarara secara lebih utuh.
Selisih rata-rata nilai pre-test dan post-test adalah 33,94 poin. Perhitungan N-Gain menghasilkan nilai 0,67, sehingga peningkatan pemahaman siswa berada pada kategori sedang menuju tinggi. Kelas X-A memperoleh rata-rata pre-test 44,17 dan post-test 84,17. Kelas X-B memperoleh rata-rata pre-test 49,83 dan post-test 80,67. Kelas X-C memperoleh rata-rata pre-test 54,33 dan post-test 85,33. Ketiga kelas mengalami peningkatan setelah menggunakan web interaktif, walaupun besar kenaikannya berbeda. Kelas X-A mengalami kenaikan paling besar karena pemahaman awalnya paling rendah, sedangkan kelas X-C tetap memperoleh nilai akhir tertinggi setelah penggunaan web.
Hasil pre-test dan post-test memperlihatkan bahwa web interaktif berperan sebagai media yang mampu memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai historis, filosofis, dan ekofeminis tenun songket Sukarara. Peningkatan nilai setelah penggunaan web menunjukkan bahwa penyajian budaya melalui media digital dapat membantu siswa membaca tenun bukan hanya sebagai kain, melainkan sebagai warisan pengetahuan, simbol identitas, cerita perempuan, dan bagian dari relasi manusia dengan alam. Implikasi dari hasil tersebut adalah bahwa digitalisasi budaya dapat menjadi sarana pewarisan nilai yang relevan bagi generasi muda, terutama ketika informasi budaya disajikan melalui media yang mudah diakses, visual, ringkas, dan dekat dengan kebiasaan belajar siswa masa kini.
  1. Hasil Angket Respon Pengguna
Angket respons pengguna diberikan kepada 90 siswa setelah mereka menggunakan web interaktif tenun songket Sukarara. Responden terdiri atas tiga kelas, yaitu kelas X-A sebanyak 30 siswa, kelas X-B sebanyak 30 siswa, dan kelas X-C sebanyak 30 siswa. Angket digunakan untuk mengetahui penilaian siswa terhadap kualitas tampilan web, kemudahan penggunaan, keterbacaan informasi, manfaat materi budaya, pemahaman nilai ekofeminisme, fungsi QR Code, media visual, serta ketertarikan siswa untuk mempelajari dan melestarikan tenun Sukarara. Instrumen angket terdiri atas 20 pernyataan dengan lima pilihan respons, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Penilaian angket menggunakan skala Likert dengan skor SS = 5, S = 4, N = 3, TS = 2, dan STS = 1. Skor maksimal setiap siswa adalah 100, diperoleh dari 20 pernyataan dikalikan skor tertinggi 5. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase respons adalah:
Rata-rata skor angket dihitung menggunakan rumus:
Rata-rata total skor respons pengguna mencapai 87,07 dari skor maksimal 100, dengan rata-rata skala Likert sebesar 4,35. Persentase respons pengguna berada pada angka 87,07% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Dari 90 siswa, sebanyak 88 siswa berada pada kategori sangat baik, sedangkan 2 siswa berada pada kategori baik. Tidak terdapat responden yang berada pada kategori cukup, kurang, atau sangat kurang. Data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas siswa memberikan respons positif terhadap web interaktif tenun songket Sukarara. Jika dilihat berdasarkan kelas, rata-rata respons kelas X-A mencapai 87,37%, kelas X-B sebesar 87,13%, dan kelas X-C sebesar 86,70%. Ketiga kelas memperoleh kategori sangat baik dengan selisih nilai yang relatif kecil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa web interaktif dapat diterima secara konsisten oleh siswa dari kelas yang berbeda.
Secara keseluruhan, dari 1.800 respons yang terkumpul, pilihan Sangat Setuju berjumlah 876 respons atau 48,67%, sedangkan pilihan Setuju berjumlah 757 respons atau 42,06%. Gabungan respons positif mencapai 1.633 respons atau 90,72%. Pilihan Netral berjumlah 107 respons atau 5,94%, sedangkan respons negatif berupa Tidak Setuju dan Sangat Tidak Setuju berjumlah 60 respons atau 3,33%. Persentase tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa menilai web interaktif menarik, mudah digunakan, informatif, dan membantu mereka memahami tenun songket Sukarara secara lebih jelas. Berdasarkan aspek penilaian, respons tertinggi terdapat pada aspek minat dan pelestarian budaya dengan persentase 87,56%. Aspek pemahaman nilai budaya memperoleh persentase 87,52%, aspek tampilan dan kemudahan web sebesar 87,06%, aspek QR Code dan media visual sebesar 86,78%, serta aspek ekofeminisme dan lingkungan sebesar 86,56%. Seluruh aspek berada pada kategori sangat baik.
Implikasi dari hasil angket ini adalah bahwa web interaktif memiliki potensi kuat sebagai media pewarisan nilai budaya Sasak bagi generasi muda. Respons positif siswa menunjukkan bahwa penyajian informasi budaya melalui teks singkat, visual, QR Code, dan struktur menu yang mudah diakses dapat meningkatkan minat belajar budaya lokal. Web interaktif memberi ruang bagi siswa untuk mengenal tenun Sukarara secara lebih dekat, bukan hanya sebagai produk kerajinan, melainkan sebagai warisan historis, filosofis, ekologis, dan perempuan yang perlu dijaga keberlanjutannya.
BAB 5 ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
  1. Rancangan Anggaran Biaya Penelitian
Anggaran penelitian ini disusun berdasarkan kebutuhan pelaksanaan kegiatan sejak tahap persiapan, pengumpulan data lapangan, pengembangan web interaktif, uji coba kepada responden, pengolahan data, hingga penyusunan laporan akhir. Total dana yang diajukan sebesar Rp15.000.000,00 dan digunakan untuk menunjang kebutuhan alat dan bahan, jasa pendukung, dokumentasi, transportasi, akomodasi, pengembangan media digital, serta penyusunan luaran penelitian. Penggunaan dana diarahkan agar seluruh proses penelitian dapat berjalan efektif, mulai dari identifikasi nilai historis, filosofis, dan ekofeminis tenun songket Sukarara sampai pada pengujian web interaktif sebagai sarana pewarisan nilai budaya Sasak bagi generasi muda. Jadwal penelitian dilaksanakan secara bertahap dari April sampai Agustus 2026, dimulai dari studi literatur dan persiapan instrumen, dilanjutkan dengan observasi serta wawancara di Desa Sukarara, analisis data dan pengembangan web, kemudian diakhiri dengan uji coba, evaluasi, serta penyusunan laporan akhir.
Tabel 5.1 Rancangan Anggaran Biaya Penelitian
NoKomponen Penggunaan DanaRincian PenggunaanJumlah Anggaran
1 | Alat dan bahan | Domain, hosting 1 tahun, ATK, pencetakan instrumen, pencetakan laporan, dan penyimpanan data dokumentasi | Rp3.000.000
2 | Pengembangan web interaktif | Desain tampilan web, penyusunan konten, pengembangan fitur, QR Code, dan uji akses media | Rp4.000.000
3 | Jasa pendukung penelitian | Konsultasi IT, desain UI/UX, editing konten visual, dan transkripsi wawancara | Rp2.500.000
4 | Dokumentasi dan sewa perlengkapan | Dokumentasi foto/video, sewa alat dokumentasi tambahan, dan perlengkapan presentasi | Rp1.500.000
5 | Transportasi dan akomodasi lapangan | Transportasi ke Desa Sukarara, konsumsi kegiatan lapangan, dan kebutuhan komunikasi selama pengumpulan data | Rp2.000.000
6 | Uji coba dan pengolahan data | Pelaksanaan pre-test, post-test, angket kepada 90 siswa, rekapitulasi data, dan analisis hasil | Rp1.000.000
7 | Biaya tak terduga | Kebutuhan tambahan selama penelitian yang belum tercakup dalam komponen utama | Rp1.000.000
Total | Rp15.000.000
  1. Jadwal Penelitian
Tabel 5.2 Jadwal Penelitian
NoKegiatanTanggal PelaksanaanOutput Kegiatan
1 | Persiapan penelitian dan studi literatur | 1–30 April 2026 | Instrumen penelitian, kajian pustaka, dan rancangan awal konten web
2 | Pengumpulan data lapangan melalui observasi dan wawancara | 1–31 Mei 2026 | Data observasi, dokumentasi, transkrip wawancara tour guide dan penenun/Inaq
3 | Analisis data dan pengembangan web interaktif | 1 Juni–15 Juli 2026 | Hasil analisis tematik, struktur konten, desain, dan prototipe web interaktif
4 | Uji coba, evaluasi, dan penyusunan laporan akhir | 16 Juli–18 Agustus 2026 | Data pre-test, post-test, angket respons pengguna, evaluasi web, dan laporan akhir penelitian
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Penelitian ini berangkat dari permasalahan melemahnya pewarisan nilai budaya tenun songket Sukarara di tengah perubahan pola belajar generasi muda yang semakin dekat dengan media digital. Tenun songket Sukarara menyimpan nilai historis, filosofis, dan ekofeminis yang kuat, tetapi pengetahuan tersebut masih banyak diwariskan secara lisan melalui penenun, keluarga, dan tour guide. Pemahaman generasi muda dan pengunjung sering berhenti pada keindahan kain sebagai produk kerajinan, belum sampai pada makna mendalam tentang sejarah, motif, peran perempuan, bahan alami, dan hubungan masyarakat Sasak dengan lingkungan. Kesenjangan penelitian terlihat dari masih terbatasnya media digital yang secara khusus mengintegrasikan nilai historis, filosofis, dan ekofeminis tenun Sukarara dalam satu web interaktif yang edukatif dan mudah diakses.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenun songket Sukarara memiliki nilai historis sebagai warisan budaya masyarakat Sasak yang diwariskan secara turun-temurun, terutama melalui perempuan atau Inaq. Nilai filosofis tampak pada motif Subahnale, Keker, bunga, burung, tumbuhan, dan bentuk geometris yang memuat pesan rasa syukur, keindahan, kesabaran, keharmonisan, keteraturan hidup, serta hubungan manusia dengan alam. Nilai ekofeminis terlihat dari peran Inaq sebagai penjaga tradisi, penyimpan cerita budaya, sekaligus pelaku yang menghubungkan kain tenun dengan pengetahuan ekologis melalui penggunaan bahan dan pewarna alami seperti kunyit, tarum/indigo, akar mengkudu, daun, dan kulit kayu.
Pengembangan web interaktif dalam penelitian ini menjadi upaya digitalisasi budaya yang menjembatani pengetahuan lokal Sukarara dengan kebutuhan belajar generasi muda. Hasil pre-test dan post-test terhadap 90 siswa menunjukkan adanya peningkatan pemahaman setelah menggunakan web interaktif, dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 49,44 meningkat menjadi 83,39 pada post-test, serta nilai N-Gain sebesar 0,67 yang berada pada kategori sedang menuju tinggi. Hasil angket juga menunjukkan respons sangat baik, dengan persentase respons pengguna sebesar 87,07%. Web interaktif mampu membantu siswa memahami tenun Sukarara sebagai warisan budaya yang memuat sejarah, filosofi, pengalaman perempuan, pengetahuan ekologis, dan nilai pelestarian. Digitalisasi budaya melalui web interaktif dapat menjadi sarana pewarisan nilai yang relevan, karena mampu menghadirkan tradisi lama dalam bentuk yang lebih dekat dengan cara belajar generasi masa kini.
6.2 Saran
  1. Bagi pemerintah, perlu adanya dukungan yang lebih kuat terhadap pelestarian tenun songket Sukarara melalui program digitalisasi budaya, pendampingan pengrajin, penguatan wisata edukatif, serta penyediaan media informasi berbasis QR Code di sentra tenun agar nilai historis, filosofis, dan ekofeminis dapat diakses oleh masyarakat luas.
  2. Bagi generasi muda, diharapkan lebih aktif mempelajari, menghargai, dan memperkenalkan tenun songket Sukarara sebagai bagian dari identitas budaya Sasak. Generasi muda dapat memanfaatkan media digital untuk mengenal makna motif, proses menenun, peran Inaq, serta nilai pelestarian lingkungan yang terkandung dalam tradisi tenun.
  3. Bagi peneliti berikutnya, penelitian ini dapat dikembangkan dengan cakupan responden yang lebih luas, pengujian efektivitas web dalam jangka waktu lebih panjang, serta pengembangan fitur digital yang lebih interaktif, seperti audio narasi, peta motif, arsip cerita penenun, atau sistem dokumentasi digital yang dapat diperbarui secara berkala.

DAFTAR PUSTAKA
Ananda, D., & Briandana, R. (2025). Ecofeminism in Indonesia: women’s empowerment and environmental activism on social media. JURNAL STUDI KOMUNIKASI, 9(November), 673–692. https://doi.org/10.25139/jsk.v9i3.10039
Bertalyaa, Prihandokoa, Oktavinab, R., & Ramadhan, D. S. (2014). Jurnal Teknologi Full paper Designing a Prototype of Digital Museum to Promote Woven Songket , A Local Product of Sumatera , Indonesia. Jurnal Teknologi, 68(3), 77–80.
Dina, A., Sujendra, B., Rizqa, A., & Firda, F. (2024). Training and mentorship for youth : Digitalization of tenun motifs to preserve culture in Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa Pontianak. Journal of Community Service and Empowerment P-ISSN, 5(3), 639–648.
Erwin Raza., dkk. Manfaat dan Dampak Digitalisasi Logistik di Era Industri 4.0. Jurnal LogistikIndonesia, 2020: Vol. 4 No. 1. E-ISSN: 2621-6442.
Goet Poespo, 2005, Pemilihan Bahan Tekstil, Yogyakarta: PT. Kanisius.
Riccioli, Lorenzo. 2023. "Kecerdasan Buatan: Inovasi untuk Masyarakat 5.0." Jurnal Elektronik SSRN . http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.4457016 .
Sandi, S. A., Koriawan, G. E. H., & Suartini, L. (2025). KERAJINAN KAIN TENUN TRADISIONAL DI DESA SUKARARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH. Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha, 15(2), 141–158.
Sari, I. P., & Haswanto, N. (2018). ENSIKLOPEDIA DIGITAL INTERAKTIF SONGKET TRADISIONAL PADA WEB BASED HTML5. Jurnal Visualita, 7(1), 13–22.
Septiana, W., Hikmah, N., Wulandari, N. P., & Prayitno, S. (2023). Eksplorasi Etnomatematika pada Motif Kain Tenun Desa Sukarara dan Implikasi dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 8(3), 1725–1737.
 Suriyati,(2019).Jurnal Pengabdian Masyarakat 2(2):36 DOI:10.35914/tomaega.v2i2.241.
Thwairan, N. S. D. (2024). Analyzing the impact of visual elements in website design on user experience and interaction. International Journal of Religion, 5(10), 1608-1619. https://doi.org/10.61707/gqm3j2